Sabtu, 19 Mei 2018

Saat Diabetes Dan Paru-paru Aktif Menyerang Iwan



Beberapa hari lalu Nana dan Soleha teman SMA saya mengajak menengok Iwan. Katanya, lelaki yang dulu sering dipanggil foto model sampul majalah karena paling keren di sekolah ini sekarang sakit paru-paru komplikasi dengan diabetes. "Sedih deh kalau liat keadaannya, Woro."

Saya terdiam. Beberapa kali hadir dalam acara kesehatan sebagai Blogger saya banyak sekali mendapat info-info bermanfaat. Bukan sekali dua kali saya bertatap muka dengan pejuang-pejuang dalam mengatasi penyakit yang mendera tubuhnya. Bukan sekali dua kali air mata saya membanjir membayangkan semangat kesembuhan yang sering pupus. Dan kali ini, lagi, seorang teman didera dua penyakit bersamaan. Dimana komplikasi Diabetes dan Paru-paru aktif yang menyerang Iwan resikonya lebih berat dibandingkan menderita salah satu penyakit tersebut. Tahu kan apa resikonya? Kematian :'(

Penyakit Diabetes Mellitus yang kita kenal dengan penyakit gula adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat kadar gula darah yang tinggi. Kadar gula yang tinggi ini disebabkan oleh jumlah hormon insulin yang kurang atau jumlahnya cukup tapi tidak efektif (resistensi insulin).

Sedangkan penyakit paru-paru yang kerap kita kenal dengan penyakit TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini ditularkan melalui udara yang mengandung percikan dahak penderita TBC. Saat penderita TBC batuk, bersin, berbicara atau meludah ia akan memercikkan kuman TBC ke udara. Seseorang dapat terpapar kuman TBC yang hanya dengan menghirup sejumlah kecil kuman TBC yang beredar di udara. Seram kan.



Komplikasi kedua penyakit ini bermula dari gejala yang disebabkan oleh penyakit Diabetes Mellitus yang tidak disadari. Oleh sebab itu sebaiknya kita mewaspadai tanda-tanda berikut :

sering buang air kecil,
mudah lapar dan haus,
berat badan menurun,
cepat lelah dan mengantuk,
luka sulit sembuh,
penglihatan kabur sehingga sering ganti kacamata,
gatal-gatal terutama di sekitar kemaluan,
melahirkan bayi jumbo 4kg,
impoten,
kesemutan

Gejala tersebut jika tidak diimbangi dengan mengubah gaya hidup dan pola makan yang salah dan rajin melakukan olahraga akan semakin berpeluang terkena Diabetes Mellitus. Terlebih lagi bagi yang memiliki riwayat keturunan Diabetes, sedang dalam tekanan stress dan berusia di atas 40 tahun sebaiknya mulai concern lagi terhadap kesehatannya.

Karena, Diabetes Mellitus yang tidak dikontrol dan diobati akan mengakibatkan komplikasi ke organ tubuh besar misalnya paru-paru, jantung, gagal ginjal dan bagian kecil lainnya misalnya retina mata sehingga menyebabkan kebutaan. Dampak diabetes pun dapat menyebabkan impotensi dan kecacatan. Sebagaimana kita tahu pengidap diabetes rentan sekali terhadap masalah kaki. Kerusakan syaraf (mati rasa) dan sirkulasi darah yang buruk menyebabkan pasien tidak merasa sakit meskipun hanya luka kecil saja. Oleh sebab itu semua pasien Diabetes selalu diminta untuk selalu menjaga kakinya dengan mengenakan alas kaki yang tepat.

Diabetes Mellitus yang Iwan alami nyatanya sekarang menyerang paru-paru. Badannya semakin kurus saja. Setiap makanan dan minuman yang masuk ke mulutnya selalu dimuntahkan. Saran saya, sebaiknya Iwan segera dibawa ke UGD untuk mendapatkan perawatan maksimal. Logikanya, bagaimana obat bisa bekerja dengan baik bila selalu dimuntahkan. Lagipula, setiap penderita paru-paru bukankah tidak boleh absen sekalipun meminum obat TBC-nya?

Doa saya untuk Iwan semoga ia segera pulih kembali kesehatannya. Meskipun pengobatan TBC sudah berat, ditambah lagi dengan diabetes yang menyerang paru-parunya sehingga pengobatannya akan jauh lebih sulit, tapi saya yakin, asalkan Iwan menjaga kondisi gula darahnya tetap stabil dan rutin minum obat TBC-nya tanpa absen maka resiko sering kambuhnya dapat terminimalisasi. Nah, start today, let's control our diabetes for life :)




Inovasi Alat Kesehatan Philips, Cegah Bermain Dengan Maut Di Fase Golden Period



Inovasi Alat Kesehatan Philips, cegah bermain dengan maut di fase golden period seseorang. Sebagaimana kita ketahui, ketika seseorang mengalami trauma yang menyebabkan patah tulang misalnya saja kecelakaan, penanganan segera sangatlah diperlukan. Saat terbaik untuk memberi pertolongan medis adalah dalam waktu 1 sampai 6 jam setelah kejadian. Fase ini disebut periode emas atau golden period.

Istilah golden period ini saya dapatkan ketika suami saya kecelakaan motor tahun 2001 lalu. Rahang mulutnya terbelah, bagian pahanya terkena panas knalpot yang menyebabkan seperti luka bakar yang sangat lebar, dan tangan kanannya patah.

Karena kondisinya sangat mengkuatirkan suami saya segera dioperasi di bagian mulutnya sehingga rahangnya dapat disatukan lagi dengan cara mengunci di bagian gigi. Untuk itu ia tidak dapat makan selama beberapa waktu. Sementara untuk tangannya yang patah atas dasar keterbatasan biaya dan masukan banyak orang maka kami memilih pengobatan alternatif.

Jujur, jika waktu boleh diputar kembali saya ingin sekali mengulangnya. Saya yakin bila suami saya ditolong Medis dengan cepat tentu tangan kanannya masih berfungsi seperti semula. Kata dokter, patah tulang parah yang dialami suami saya mengenai sistem syarafnya. Pantas saja selama pengobatan alternatif, suami saya tidak bisa sembuh juga karena mereka hanya pandai mengobati tangan yang patah bukan syaraf.

Syaraf adalah jaringan serat yang menghubungkan organ tubuh dengan jaringan otak dan sumsum tulang belakang. Bila tidak ditangani dengan cepat saat kecelakaan seperti yang suami saya alami arus listrik syaraf perlahan-lahan akan melemah dan mati. Akibatnya, ia akan menderita cacat seumur hidupnya seperti suami saya sekarang :(

Fase golden period nyatanya sangat menentukan tingkat kesembuhan seseorang. Sayangnya, sampai sekarang masih banyak orang yang belum paham tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan. Hal itu terjadi karena umumnya orang masih mengira pertolongan pertama adalah tugas yang seharusnya dikerjakan oleh tenaga medis. Padahal, pelatihan bagi masyarakat umum untuk melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan telah sering kali saya dengar. Tapi gaungnya belum santer terdengar.



Itulah sebabnya dalam forum diskusi bersama Philips Indonesia, 14 April 2018 lalu di D Labs Jalan Riau Jakarta Pusat, saya adalah orang yang paling gembira menyambut kehadiran alat kesehatan Philips. Bapak Suryo Suwignjo selaku Presiden Director Philips Indonesia memaparkan bahwa kehadiran alat medis Philips yang baru diluncurkan merupakan sebuah upaya untuk memperkecil angka kematian dan kecacatan akibat terlambatnya pertolongan medis.

Yang pertama adalah alat kesehatan berupa hardware Telehealth yang dirangkai dengan software Philips Lumify dan Philips Intellspace portal 8. Diharapkan dengan adanya alat kesehatan ini dapat memberi kontribusi penting terhadap layanan kesehatan di manapun berada terlebih di pelosok daerah yang minim fasilitas kesehatan.

Kemudian beliau menjelaskan, kita seringkali dihadapkan dalam situasi mendesak misalnya bencana alam gempa atau tragedi kecelakaan yang menyebabkan banyak korban. Tidak terhitung orang yang mengalami luka serius yang membutuhkan diagnosa cepat dan akurat agar mendapat pertolongan maksimal. Sayangnya, di saat seperti itu, faktor penunjang keakuratan untuk mendeteksi jaringan lunak dan keras belum ada. Umumnya baru rumah sakit besar yang menyediakannya.

Untuk itu bila kejadian musibah terjadi di pelosok maka pasien harus dibawa dulu ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Dengan begitu, berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia sehingga tenaga medis kehilangan golden period untuk memberikan pertolongan maksimal? Padahal jika terlambat ditangani, atau lebih dari 6 jam, maka tingkat keberhasilannya akan kesembuhan pasien semakin menurun.

Begitupun dengan ibu hamil. Akibat mengalami kejadian yang membuat shock dalam peristiwa gempa atau kecelakaan tadi misalkan, kondisi bayi di dalam perutnya mungkin saja akan mengalami kontraksi. Biasanya dokter ginekolog akan memberikan tindakan USG untuk menegakkan diagnosa apakah bayi perlu dilahirkan spontan atau caesar? Jika masih bisa ditahan  apakah cukup hanya dengan tindakan medis sementara di tempat darurat baru dibawa ke rumah sakit atau tidak. Namun kembali lagi, untuk di USG pasien harus dibawa dulu ke rumah sakit yang jaraknya jauh sehingga berbagai peluang resiko yang tidak diharapkan bisa saja terjadi. Untuk itulah kehadiran terobosan akan kebutuhan konsumen yang selama ini menjadi acuan Philips dalam bidang kesejahteraan dan kesehatan menjadi sebuah solusi bagi tenaga medis untuk membuat diagnosa yang cepat dan akurat.



Berikut cara kerjanya :

Telehealth
Ini adalah produk hardware alat kesehatan yang sifatnya portable sehingga mudah dibawa-bawa, pun dalam keadaan bencana. Mekanisme kerjanya, pada saat bencana terjadi umumnya korban diperiksa oleh tenaga medis untuk kemudian dirujuk ke rumah sakit besar bila diperlukan. Kendalanya, hal-hal yang tidak terlihat dengan mata tentu saja tidak dapat dideteksi. Sedangkan alat MRI, CT Scan, atau USG umumnya berbentuk besar dan tidak mudah dipindahkan. Dengan alat Telehealth ini tenaga medis dengan mudah mendiagnosa keadaan pasien lalu mengirimkan medical recordnya ke rumah sakit tujuan dengan akses internet sehingga tidak diperlukan diagnosa ulang lagi di rumah sakit tujuan.

Philips Lumify
Alat ini merupakan USG dengan perangkat pintar berbasis aplikasi yang disediakan oleh penyedia layanan kesehatan berlisensi atau organisasi di Indonesia.
Kelebihannya, alat ini fleksibel sekali dari inovasi dengan sistem ultrasound genggam. dikombinasikan dengan teknologi SonoCT, Tissue Harmonic, teknologi XRES dan Autoscan maka Philips Lumify menawarkan kualitas gambar yang luar biasa jernih.
Dengan kolaborasi antara layanan kesehatan digital ultrasound Philips dan smartphone yang terhubung dengan internet dapat membantu tenaga medis meningkatkan layanan kesehatan pada pasien sekaligus menekan biaya.

Philips Intelli Space Portal 8.0
Ini merupakan teknologi solusi visualisasi dan analisa mutakhir yang menawarkan pendekatan 3 langkah sederhana untuk memberikan gambaran komprehensif pasien kepada tenaga medis sehingga mereka bisa fokus kepada hal yang penting yaktu deteksi cepat, diagnosa tepat dan tindak lanjut yang efisisen. Dengan adanya alat ini diharapkan dapat menyelesaikan berbagai kerumitan dalam alur kerja di rumah sakit.

Andai waktu bisa diputar kembali, ke tahun 2001 lalu, mungkin suami saya tidak begini keadaannya jika alat kesehatan inovasi Philips telah berada di tengah masyarakat.














Selasa, 03 April 2018

Test IVA Makin Akurat Dengan Kamera Medis Femcam


Selama ini,  ada banyak pertimbangan kenapa saya menunda-nunda terus melakukan pemeriksaan organ reproduksi saya.

Pertama saya rikuh membayangkan 'punya' saya dilihat orang lain meskipun itu adalah dokter.  Kedua saya takut sakit. Membayangkan duduk di kursi obgyn dengan kaki pekangkangan harus dibuka lebar dimana miss V saya terpampang nyata, meski dibantu spekulum sudah membuat saya ngilu duluan.

Dan yang ketiga adalah soal biaya. Meski sekarang ini biaya test IVA katanya sangat murah dan bahkan ada yang gratis tapi membayangkan jika yang handle bukan obgyn terlatih, ya sama saja menyediakan diri jadi kelinci percobaan. Serem ah...


Dalam rangka ulang tahun RS YPI Mandiri Menteng Jakarta Pusat yang ke 58, ada dua acara yang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut. Hari pertama ada seminar awam mengenai Stress Urinary Incontinence atau yang sering disebut dengan bocornya air seni secara tidak disengaja (baca tulisan saya sebelumnya ). Esoknya diselenggarakan bakti sosial dengan mengadakan test IVA secara gratis untuk umum. Faedah sekali ya :)

Jujur, meskipun gratis saya belum sepenuh hati rela menyerahkan diri melakukan test IVA, lho. Pengalaman ga enak saat pasang IUD oleh tenaga medis yang ga kompeten membuat saya sering maju mundur cantik untuk memeriksakan diri.



Setelah ribuan purnama,  akhirnya selama dua hari 'main' di RS YPK Menteng, 'trust' saya muncul lagi saat berinteraksi dengan tenaga-tenaga medis di RS ini. Terlebih saat mendengar langsung pemaparan Prof. Dr. Endy M. Moegni SpOg(K) mengenai metode test IVA yang diberikan di rumah sakit ini. Lain dari biasanya. Wah,  it sounds like special :)

Prosedur Test IVA
Mungkin kita sudah tau bahwa test IVA dilakukan dengan cara yang sederhana.  Yakni dengan mengoleskan asam cuka di leher rahim kita.  Setelah sekitar 8 - 10 menit nanti akan terlihat ada perubahan warna atau tidak di leher rahim yang dioles asam cuka tadi.  Dengan demikian hasilnya langsung diketahui saat itu juga. 



Indikasinya, leher rahim yang terdeteksi Kanker Serviks setelah dioleskan asam cuka warnanya akan terlihat putih. Menurut Prof. Dr. Endy M. Moegni, SpOG(K)  putih-putih yang terlihat menyerupai bercak panu.






Yang harus diamati, meskipun sama-sama ada bercak putih, tapi bercak putih yang ada di lingkaran dalam leher rahim, tepat di mulut rahim, bukanlah Kanker Serviks. Justru,  bercak putih yang ada di lingkaran luar, tepatnya di sekeliling atau di beberapa area terluar leher rahimlah yang merupakan pertanda adanya kanker serviks.

Test IVA Makin Akurat Dengan Kamera Medis Femcam
Namun sayangnya,  sampai sekarang masih banyak tenaga medis yang masih ragu-ragu membuat kesimpulan. Apakah seluruhnya ataukah sebagian saja perubahan warna yang terjadi yang dikatakan sebagai Kanker Serviks? Nah, dengan menggunakan kamera medis Femcam di RS YPI Menteng, keakuratan pendeteksian jadi lebih terjamin.


Kecanggihan kamera medis Femcam untuk mendeteksi kanker serviks diantaranya :
1. Berfungsi sebagai media konsultasi yang tepat, antara pasien dan dokter.
Begini maksudnya. Selama ini test IVA yang kita kenal dengan teknik kolposkopi hanya bekerja satu arah saja, kan.  Dokter memeriksa organ dalam kita tapi kita tidak tau kondisi organ dalam kita yang diperiksa seperti apa. Kita tidak punya gambaran apapun. Kalau leher rahim yang sehat seperti apa,  kalau ada kelainan seperti apa. 

Dengan adanya Femcam,  kita bisa melihat langsung organ dalam kita saat diperiksa melalui layar monitor (cara kerjanya sama dengan prosedur biopsi). Dengan begitu kita jadi tau bagaimana kondisinya,  sehat atau tidak menurut dokter.

2. Berfungsi sebagai alat dokumentasi. Jadi seluruh pemeriksaan akan diwujudkan dalam bentuk hasil print out berupa foto (seperti hasil USG atau rontgen). Dan bisa kita bawa pulang.


Jika-ya siapa tau-kita masih kurang sreg dengan diagnosa dokter, sehingga kita perlu second opinion, maka hasil print Femcam, atau medikal record hasil test IVA ini kita bisa tunjukkan untuk dibaca ulang ke tenaga medis lain. Jadi, tidak perlu Test IVA lagi, kan hehehe.. 

3. Femcam juga mampu menyimpan data.  Sehingga, bila bukti foto USG hasil test IVA kita hilang atau tercecer kita tidak perlu kuatir.  Karena alat ini mampu menyimpan data dan file-nya bisa diexport ke kita melalui media simpan USB atau media simpan lainnya.  Asiknya,  selain dalam bentuk foto, dokumentasi berupa video juga ada. Oke,  jelas ya. 



Pentingnya Test IVA Untuk Cegah Kanker Serviks
Penyakit kanker serviks merupakan salah satu penyakit mematikan yang menjadi perhatian khusus. Bukan saja untuk pemerintah Indonesia namun dunia pun mengkuatirkannya karena hampir tidak ada gejala yang mudah terdeteksi sejak awal. Itulah sebabnya penyakit ini sering disebut dengan sillent killer, atau pembunuh diam-diam.

Dikatakan oleh Prof Endy, "Menurut WHO, setiap tahunnya,  di seluruh dunia, sebanyak 490 ribu perempuan terdeteksi kanker serviks dan 240 ribu diantaranya meninggal." 

Masih belum cukup,  data Globocan 2002 pun mengeluarkan fakta bahwa setiap harinya,  di Indonesia, ditemukan 41 kasus baru dan setiap harinya terjadi 20 kematian yang disebabkan oleh kanker ini. Ini artinya,  peluang hidup dan mati fifty-fifty aja, ya ga sih?  Ngeri saya.

Berbagai upaya pun digalakkan oleh WHO dan Pemerintah ke tengah masyarakat untuk mengatasi kanker serviks. Tindakan pencegahan primer dilakukan dengan cara memberikan edukasi ke tengah masyarakat mengenai bahayanya kanker serviks dan gencar menghimbau masyarakat untuk sadar diri melakukan imunisasi (vaksin HPV). 

Dengan vaksinasi diharapkan imunitas tubuh akan menguat. Jika imunitas kuat, proses penularan pun dapat terminimalisasi sehingga virus HPV yang menjadi penyebab kanker serviks dapat diatasi. Untuk itu, vaksinasi sudah bisa dilakukan sejak anak berusia 9 tahun atau sudah mengalami menstruasi. Mana yang lebih dulu. 

Sebagaimana kita ketahui, proses penularan kanker serviks terjadi akibat daya tahan tubuh atau imunitas seseorang yang lemah.  Ditunjang dengan beberapa faktor diantaranya melahirkan terlalu banyak, pengguna pil KB, merokok, aktif secara seksual sejak usia dini dan sering gonta ganti pasangan proses penularannya memiliki peluang resiko tinggi. 

Pencegahan sekunder meliputi deteksi dini dan terapi lesi pra kanker. Terapi lesi pra kanker dilakukan dengan cara papsmear atau test IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Bisa juga dengan melakukan cara lain yaitu dengan test DNA HPV yang masing-masing memiliki keunggulan.

Saya sempat bertanya kepada Prof. Endy, lebih baik mana, test IVA atau papsmear? Menurut beliau, yang lebih baik adalah test IVA. Dari segi biaya, test IVA biayanya sangat murah dibandingkan test papsmear. Hasilnya pun langsung didapat seketika dibandingkan test papsmear yang harus dicek dulu di laboratorium sampai berhari-hari. Dan yang terakhir, tingkat sensitivitas keakuratan lebih baik dengan test IVA dibandingkan papsmear. 

Apalagi kalau testnya menggunakan kamera medis yang dirancang oleh Prof Endy sendiri. Tentu keakuratannya lebih pasti lagi karena secara visual bukan dokter saja yang bisa melihatnya tapi kitapun juga bisa. Nah, berikut step by step ketika saya melakukan test IVA dengan kamera medis Femcam.

Pertama saya diminta melepaskan baju bawah saya dan diganti dengan kain panjang kuning.  Seperti di salon kaya mau treatment Spa gitu deh hehee..



Selanjutnya,  saya diminta duduk di kursi obgyn yang bisa distel naik turun dan distel kemiringannya. Untuk kemudian diperiksa. 

Ketika diperiksa dokter,  saya bisa melihat langsung organ dalam saya melalui layar monitor yang ada di depan saya. 

Kemudian dokter memotret keadaan leher rahim saya sebelum disemprotkan asam cuka. Memotret lagi sesaat setelah disemprotkan. Dan memotret lagi setelah satu menit untuk melihat perubahan warna pada leher rahim dan hasilnya langsung diketahui saat itu juga. 

Jadi, ada beberapa potret yang diambil dokter. Tapi yang diprint hanya tiga saja. Alhamdulillah,  menurut prof Endy keadaan leher rahim saya bagus. Hanya ada radang rahim saja yakni servisitis.
Kata prof Endy, sih,  tidak apa apa. Tadi saat diperiksa, beliau sudah mengoleskan cairan semacam abotyl untuk menghilangkan radangnya. 

Koq tau? Iya dong, kan saya melihat langsung; nonton di layar monitor ketika organ dalam saya diperiksa dan apa saja yang dilakukan dokter.


Hanya satu menit saja hasilnya langsung tercetak. Ketika saya duduk manis sudah mengenakan pakaian saya kembali,  prof Endy sudah siap dengan buku hasil dokumentasi test IVA di tangannya. Alhamdulillah, aman.




Esoknya, Bidan Ati menghubungi saya.  Beliau menanyakan apakah ada saran dari Prof Endy untuk konsultasi lanjutan setelah test IVA. Saya jawab tidak ada. Servisitisnya sudah diobati dengan zat semacam abotyl.

Tapi Bidan Ati berinisiatif meminta izin untuk konsul ke dokter Nadir boleh tidak. Saya iyakan. Dan hasilnya, saya disarankan untuk mengobati servisitis dan tetap melakukan papsmear untuk mengetahui dan mengatasi radang servisitisnya.

Baiklah, next agenda saya adalah mengobati servisitis dan papsmear. Doakan tidak terjadi apa-apa ya teman-teman. Saya takut. 

Senin, 02 April 2018

Mengenal Lebih Jauh Stress Urinary Incontinence, Kebocoran Urine Secara Tidak Sengaja



Sssttt, jangan mengerutkan kening dulu ya kalau saya menyebutkan kata 'dol'. Bisa jadi, istilah 'dol' terdengar vulgar dan bikin merah pipi karena terkait dengan organ intim kita, betul apa betul? Padahal masalah beser atau keinginan buang air kecil terus menerus merupakan salah satu gangguan panggul yang menjadi masalah serius karena berhubungan dengan tingkat kepercayaan diri. Keadaan ini bila dibiarkan dapat memicu terjadinya bocor urine akibat hilangnya kekuatan uretra yang disebut dengan Stress Urinary Incontinence (SUI). 

Umumnya, keinginan buang air kecil terus menerus kerap kita anggap normal, khususnya pada wanita lanjut usia.  Maklumin aja, namanya juga sudah tua, sudah kendor semuanya. Begitu kan. Padahal beberapa gejala yang perlu kita pahami terkait gangguan panggul selain keinginan buang air kecil terus menerus, juga sulit menahan buang air besar, turun peranakan dan terjadi masalah seksual yang bisa menjadi masalah serius jika tidak ditangani dengan baik. 

Tentang Inkontinensia Urine dan Stress Urinary Incontinence


Dalam rangka ulang tahunnya yang ke 58, beruntung saya diundang oleh RS YPK Menteng Jakarta Pusat, 31 Maret 2018 kemarin dalam seminar umum Stress Urinary Incontinence dan bakti sosial pemeriksaan IVA. Saya jadi dapat info lebih banyak mengenai gangguan organ panggul yang sering dialami perempuan yakni beser Inkontinensia Urine dan bocor urine yang disebut Stress Urinary Incontinence dan cara mengatasinya. 
"Inkontinensia urine adalah kondisi dimana seseorang tidak bisa menahan buang air kecil. Sebenarnya kondisi ini bisa aja dialami pada lelaki maupun perempuan. Namun, memang cenderung lebih banyak dialami pada perempuan yang notabene sudah aktif secara seksual. Kecenderungan ini juga bisa dialami perempuan pasca melahirkan," jelas Dr. dr. Budi Iman Santoso, SpOG (K).
Beser terjadi akibat lemah atau rusaknya otot yang digunakan untuk menahan keinginan buang air kecil seperti otot dasar panggul dan uretral sphincter. Mekanismenya, selama berkemih seharusnya otot-otot di dinding kandung kemih mengalami kontraksi, memaksa urine keluar dari kandung kemih dan masuk ke dalam uretra. 



Namun bagi yang mengalami Stress Urinary Incontinence, otot sphincter atau cincin otot yang-seharusnya menjaga pembukaan biologis untuk buang air kecil menutup-yang mengelilingi uretra kendor. Kondisi ini menyebabkan urin keluar dari tubuh dengan sendirinya. 


Keinginan beser terus menerus, meski oleh sebagian besar masyarakat dianggap normal, sejatinya memicu masalah yang jauh lebih berat. Jika tidak ditangani sedari dini Inkontinensia Urine dapat memicu terjadinya Stress Urinary Incontinence (SUI). 

Faktor Resiko Terjadinya Stress Urinary Incontinence
Wanita yang memiliki riwayat kehamilan dan sering melakukan persalinan melalui vagina merupakan faktor resiko utama yang menyebabkan terjadinya Stress Urinary Incontinence. Paska menopouse, paska pembedahan panggul, mengalami cedera saraf di panggul atau otot lemah di sekitar kandung kemih juga memiliki resiko tinggi mengalami bocornya air seni. 



Tapi, jangan senang dulu. Kita pun dapat beresiko bila kita mengalami masalah berat badan berlebih, dan sakit batuk-batuk yang sudah lama. Merokok dan asupan mengiritasi seperti kopi dan teh.   

Dampak Stress Urinary Incontinence (SUI) Bagi Kehidupan
Stress Urinary Incontinence dirasakan penderitanya dengan keluarnya air kemih  tanpa disadari. Keluarnya air kemih seringkali terjadi saat melakukan aktivitas mengangkat barang yang berat atau pada hal sepele misalnya batuk, bersin atau tertawa. Bahkan, di kondisi selanjutnya, pada beberapa kasus, air kemih dapat keluar sendiri tanpa disadari saat melakukan perubahan posisi dari duduk ke diri, atau berjalan atau membungkukkan badan. Iihh, gimana rasanya ya kalau mengompol tiba-tiba di tempat dan waktu yang salah pula. Duuh....

Kondisi ini terjadi akibat hilangnya kekuatan uretra akibat struktur pendukung panggul yang melemah. Wanita hamil khususnya di trimester ke dua dan ke tiga juga sering mengalami SUI. Hal ini dikarenakan tekanan pada kandung kemih seiring dengan membesarnya janin. 

"Satu dari lima wanita hamil yang mengalami SUI akan terus mengalami SUI seumur hidupnya. Ini bukan hal normal," jelas Dr. dr. Budi Iman Santoso, SpOg (K). 
Cara Mengatasi Stress Urinary Incontinence
Untuk mengatasi bocor urin supaya tidak semakin parah, ada tiga tindakan terapi non surgical yang disarankan beliau. Yang pertama, menggunakan pesarium ataun tampon. Akan tetapi cara ini riskan terhadap dampak yang ditimbulkan dengan pemakaiannya misalnya saja salah pasang, alergi, tidak nyaman, sering copot dan lain sebagainya. 

Jika menggunakan pospak pun tetap berdampak pada pengeluaran bulananan. Disamping itu tetap ada rasa kuatir. Takut overload sehingga daya tampung pospak tidak mencukupi saat bepergian. Itu jelas mengganggu dan memicu perasaan malu, terisolasi dan bahkan depresi. 



Yang kedua, untuk mengatasi Stress Urinary Incontinence dengan melakukan perubahan gaya hidup yakni dengan menghindari minum kopi ataupun teh. Dan yang ketiga dengan melakukan senam otot. Pernah mendengar yang namanya senam kegel, kan? Nah, senam kegel merupakan latihan untuk mengencangkan otot dasar panggul. 

Caranya, kencangkan otot panggul bawah selama kira-kira tiga detik. Setelah itu, lemaskan kembali otot panggul bawah selama tiga detik. Lakukan cara ini berulang-ulang dimanapun dan kapanpun. Saya juga sering diam-diam melakukan senam kegel saat nyetir mobil atau lagi duduk diam di depan laptop. Kuncinya jangan menahan napas atau mengencangkan otot perut, paha dan pantat, ya. 

Bisa juga saat berkemih, cobalah tahan sebisa mungkin air kemih yang keluar. Tahan sebentar lalu keluarkan air seni sedikit. Tahan lagi sebentar, keluarkan lagi sedikit. Begitu terus sampai kandung kemih terasa kosong. 

Atasi Stress Urinary Incontinence Dengan Treatment Femilift
Ada cara lain yang ditawarkan DR. dr Budi Iman Santoso, SpOG (K) selaku ketua Uroginekologi yang juga berpraktek di RSIA YPK Mandiri, Menteng, Jakarta Pusat yakni melakukan senam kegel dengan treatment menggunakan teknologi perawatan canggih bernama Femilift. 

Sistem kerja Femilift hampir sama dengan senam kegel yakni melatih otot  dasar panggul. Akan tetapi, senam kegel baru berefek rata-rata enam bulan berikutnya. Itupun kalau cara melakukannya benar, rutin dilakukan dan memiliki passion kuat untuk sembuh. Sementara dengan laser Femilift, cukup hanya 3 sampai 5 kali treatment dengan selang waktu selama 4 minggu atau sebulan sudah terlihat hasilnya. Efek cengkram Miss V menjadi lebih kuat.




Teknologi canggih perawatan laser Femilift nyatanya bukan cuma untuk memperbaiki masalah medis seperti Stress Urine Incontinence saja. Akan tetapi bisa dilakukan untuk estetika seperti peremajaan vagina (Vaginal Rejuvenation), Femilife pencerahan warna bibir vagina (Labia Brightening) dan peremajaan bibir vagina (labisa tightening) yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan dalam hubungan intim suami istri. 

Nah, sekarang coba tanya ke diri kita sendiri,  pernahkah tiba tiba buang air kecil saat tertawa. Apakah kita merasa tidak nyaman dengan kondisi begitu? Apakah ada rasa menderita akibat vagina yang sudah mengendur, kering atau menderita infeksi berkepanjangan atau mengalami kebocoran urine secara tidak sengaja? Dan apakah untuk mengatasi gangguan tersebut kita mencari solusi non operasi yakni tanpa rasa sakit dan tanpa harus opname? Nah segera konsultasikan di RSIA YPK Mandiri Menteng. Dikerjakan oleh tenaga Obgyn terlatih yang mengkhususkan di bidang Uroginekologi maka kenyamanan pasien menjadi hal utama yang dikedepankan. 

Jujur,  kalau ingat jaman baheula dulu,  saya pernah pasang IUD oleh tenaga ahli yang tidak kompeten. Akibatnya, benang IUD nongol di permukaan vagina dan saya mengalami pendarahan terus menerus. Hal itu membuat saya jadi ribuan kali mikir dulu kalau asal asalan memilih tenaga medik kepercayaan.



Berikut beberapa tenaga ahli uroginekologi RS YPK Mandiri yang beralamat di Jl. Gereja Theresia No. 22, Menteng, Jakarta Pusat: 
Prof. dr. H. Yunizaf, SpOG (K)
Dr. H. Mohammad Syah Nadir Chan, SpOG (K)
DR. dr. Budi Iman Santoso, SpOG (K)
dr. Fernandi Moegni, SpOG (K)
dr. Alfa Putri Meutia, SpOG (K)
dr. Gita Nurul Hidayah, SpOG







Sabtu, 29 April 2017

Supaya Sehat Jiwa Kita, Waspadai Bahaya Kecanduan Internet



Jika dihadapkan pada suatu kondisi, ketinggalan dompet atau gadget, apa yang kamu pilih?

Wah saya ngga nyangka, hampir semua orang lebih memilih ketinggalan dompet daripada gadget lho. Alasannya, sejauh ada kuota internet, cukup klik pesan ojek online maka dompet seketika akan sampai di tangan kita. Benar juga ya! hehehee…

Internet memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat jaman sekarang. Sampai-sampai ada pepatah “jaman sekarang mah bukan Harta, Tahta, Wanita lagi melainkan Harta, Tahta, Kuota”. Ajaib memang. Sebegitu kuatnya daya tarik internet membuat banyak dari kita yang tidak bisa hidup tanpa internet. Melalui internet kita bisa menemukan informasi yang kita cari. Melalui internet kita bisa mewujudkan apa yang kita inginkan. Bisa disimpulkan, internet merupakan tempat mendapatkan segala sesuatu secara instant.  

Fakta pengguna internet
Sebegitu mudahnya pencarian berbagai  informasi melalui internet membuat banyak orang yang betah berlama-lama menggunakan internet. Mulai dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa dengan mudah berselancar di berbagai situs. Hal itu dibuktikan oleh Unicef. Tahun 2014, organisasi PBB yang berfokus pada anak dan remaja ini melakukan studi dan ditemukan bahwa 79,5 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak dan remaja berusia 10 – 19 tahun. Lebih dari 52 persen mereka menggunakan ponsel untuk mengakses internet, namun kurang dari 21 persen untuk smartphone dan 4 persen untuk tablet.

Yang lebih mencengangkan fakta yang didapat dari studi yang dilakukan Universitas Hongkong. Ditemukan bahwa enam persen dari populasi dunia atau lebih kurangnya sebanyak 420 juta orang kecanduan internet. Disimpulkan, dengan semakin berkembangnya teknologi, setiap tahun jumlah pengguna internet semakin meningkat. Woow!!!

Gejala Kecanduan Internet

Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, SpKJ

Kemudahan yang ditawarkan dalam internet membuat banyak pengguna internet menjadi adiksi alias kecanduan. Dalam acara Meet and Greet Blogger di Auditorium RSJ Dr. Soeharto Herdjan yang lebih kita kenal dengan nama rumah sakit jiwa grogol, Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, SpKJ seorang psikiater  anak dan remaja mengatakan,

1.      Gejala adiksi internet tidak selalu terlihat pada awal pemeriksaan. Oleh karena itu klinisi perlu secara rutin untuk menilai kehadiran adiksi internet.
2.      Gejala adiksi internet yang paling umum adalah penderita menghabiskan waktu secara berlebihan untuk online.
3.      Gangguan tersebut mendesak penderita untuk menggunakan internet ketika offline dan secara signifikan mengalihkan waktu dan pikirannya.
4.      Pada saat penderita mulai untuk mengurangi pengaksesan internet, penderita tersebut akan merasa cemas, iritabel dan depresi.
5.      Ansietas dapat timbul sebelum mengakses internet dan hilang ketika berhasil mengakses internet.

Ciri-ciri kecanduan internet
Anak dan remaja yang kecanduan internet terlihat dari ciri-ciri sebagai berikut :

1.      Preokupasi terhadap internet

2.      Membutuhkan waktu online yang lebih lama (lebih dari 40 jam/bulan)

3.      Usaha yang berulang untuk mengurangi pengaksesan internet

4.      Reaksi penarikan ketika mengurangi pengaksesan internet

5.      Bermasalah dalam manajemen waktu

6.      Distress lingkungan baik dari keluarga, sekolah, pekerjaan, dan pertemanan

7.      Melakukan kebohongan mengenai waktu yang dihabiskan untuk online

8.      Modifikasi mood melalui pengaksesan internet

Menurut kuesioner diagnostic yang dilakukan oleh Young, bila ada lima point di atas saja yang bisa dipenuhi maka seseorang bisa dikategorikan sebagai pecandu internet. Nah, jadi sebaiknya kita mulai harus mewaspadai bila anak dan remaja kita lebih senang menghabiskan waktu untuk online ketimbang bersama teman atau keluarga ya.  


Dampak kecanduan internet
Dari perilaku di atas kita bisa melihat bahwa kecanduan pada internet mempunyai dampak yang dapat menganggu pekerjaan, pendidikan, keluarga dan interaksi social. Perlahan-lahan sikap mereka menjadi cuek dengan lingkungan dan tidak mempunyai tanggung jawab pribadi. Bila dia seorang pelajar, dampak yang terlihat ke depannya adalah prestasi yang semakin merosot. Bila terus berlanjut, bisa jadi mereka akan tumbuh menjadi agresif dan bisa meningkatkan resiko kriminalitas.

Sayangnya, masih sedikit orang yang menganggap dirinya sudah masuk ke dalam kategori kecanduan sehingga hanya sedikit sekali yang mencari pengobatan ke tenaga kesehatan professional. Untuk itu antisipasi perlu dilakukan orang tua untuk disiplin mengawasi penggunaan dan membatasi waktu online.

Baru-baru ini melalui media social saya mendapat broadcast yang mengajak orang tua mau meluangkan waktu bersama keluarga dari jam 18.00 – 20.00 tanpa gadget. Jadi, bukan saja anak yang harus melepaskan gadget dari genggaman, tapi orang tua juga sama. Selama ‘family time’ tersebut, usahakan untuk melakukan berbagai aktivitas untuk meningkatkan kualitas hidup dengan saling bertukar cerita kejadian yang dialami seharian. Boleh juga ya tips ini dilakukan di rumah.

Kecanduan Pornografi
Menurut peneliti LIPI, Romi Satria Wahono (2016), setiap detiknya, terdapat 28.258 orang melihat situs porno dan 372 pengguna internet mencari konten pornografi. Hal tersebut bisa kita lihat dari perilaku online-nya dan dibagi menjadi lima kategori yaitu sebagai berikut :

1.      Cybersexual addiction yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situr sporno atau cybersex secara kompulsif.

2.      Cyber-relationship addiction yaitu seseorang yang hanyut dalam pertemanan melalui dunia cyber.

3.      Net compulsion yaitu seseorang yang terobsesi pada situs oerdagangan atau perjudian.

4.      Information overload yaitu seseorang yang menelusuri situs informasi secara kompulsif.

5.      Computer addiction yaitu seseorang yang terobsesi pada permainan game online.


See, kita lihat ya, cybersexual addiction menempati urutan nomor satu. Mengerikan bukan, bila anak dan remaja kita di rumah menjadi salah satu pecandu internet sekaligus pecandu pornografi. Nah, ciri-cirinya apa aja yang perlu kita sebagai orang tua ketahui? Mari kita waspadai, bila anak dan remaja kita :

1.      Bila ditegur dan dibatasi menggunakan HP akan marah

2.      Mulai impulsive, berbohong dan emosinya naik

3.      Sulit berkonsentrasi

4.      Jika bicara menghindari kontak mata

5.      Menyalahkan orang

6.      Menutup diri

7.      Prestasi akademis menurun

8.      Hilang empati, apapun yang diminta harus diperoleh


Penggunaan internet secara terus menerus secara signifikan dipastikan akan berdampak pada hubungan social dan komunitasnya. Untuk itu perlunya sinergi mulai dari tingkat keluarga hingga pemerintahan untuk mencegah dampak bahaya kecanduan internet. Peran media massa untuk membantu menyiarkan berita yang bersifat positif juga diperlukan dan bisa dipertanggung jawabkan.

dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ

Urban Mental Health
Belum lama ini kita terkejut dengan ramainya live show adegan bunuh diri seorang lelaki melalui akun pribadi Facebooknya. Peristiwa tersebut jika menurut kacamata orang normal adalah perbuatan orang yang mentalnya terganggu. Tidak ada orang sehat yang mau melukai dirinya sendiri seperti itu, kan.

Ada lagi fenomena terkini yang baru-baru ini ramai sekali dibicarakan anak-anak saya. Eraser challenge, yaitu tantangan menggosok penghapus pensil di kulit lengan sekeras dan secepat mungkin. Hasil lecet akibat luka gesekan dipamerkan di media social dan semakin parah lukanya semakin keren.

Tantangan lain di internet yang marak terjadi sampai masuk ke pemberitaan televise adalah Skip challenge. Tantangannya adalah menekan dada ke tembok sekuat tenaga sampai tak sadarkan diri. Ada lagi choking challenge yaitu tantangan mencekik leher sampai tak sadarkan diri. Selain itu adalagi yang namanya cinnamon challenge yaitu tantangan menelan sesendok bubuk kayu manis tanpa dibantu air minum dan sack tapping yaitu tantangan memukul kemaluan teman lelaki dengan sekuat tenaga.

Di Indonesia keinginan memamerkan segala hal di akun media sosialnya merupakan tren seiring maraknya penggunaan internet di berbagai kalangan. Ditambah lagi dengan tekanan hidup di perkotaan seperti Jakarta seperti kesenjangan social ekonomi dan tidak bekerja menjadi penyebab stress dan depresi. Semakin tinggi tingkat stressnya semakin tinggi juga bahaya resiko bunuh diri.
Menurut narasumber kedua, dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, tahun 2007 ada sebanyak 14,1 persen orang atau 763 orang di Jakarta dikatakan menderita cemas dan depresi dibawah propinsi Jawa Barat yang menempati urutan pertama di angka 20 persen.

Tingginya angka tersebut membuatnya tidak bisa tinggal diam. Melalui perjuangannya di ruang rapat DPR bersama timnya, akhirnya pemerintah mengesahkan UU No. 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa. Dokter Nova yang juga Ketua Umum PDSKJII DKI Jakarta giat mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan jiwa terhadap tantangan urban mental health. Tentunya diharapkan dengan adanya edukasi mengenai kesehatan jiwa bisa meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat  khususnya di DKI Jakarta.


RSJ Dr. Soeharto Herdjan
Acara Meet and Greet Blogger yang berlangsung di auditorium RSJ Dr. Soeharto Herdjan merupakan rangkaian dari peringatan ulang tahunnya yang ke 150. Di acara ini kami para Blogger diajak melihat secara langsung kegiatan para rehabilitant atau pasien yang sudah berada di tahapan tidak menyakiti diri sendiri dan lingkungan dan rajin minum obat yang diberikan dokter. 




Ada tiga proses seleksi untuk bisa mengikuti program rehabilitasi agar mampu beradaptasi di tengah masyarakat, yaitu :

Level seleksi. Di level ini harus melalui screening dulu dari dokter umum, psikiater, perilaku socialnya gimana dan fisioterapi. Setelah lolos di tahap ini selanjutnya





Level aktivitas. Di level ini rehabilitant mengikuti program kegiatan sebanyak 20 kali pertemuan sesuai dengan minatnya. Dengan terapis terlatih para rehabilitant yang suka boga akan diarahkan membuat kue dan roti. Kebetulan ketika kami datang ke ruang kitchen, mereka baru saja belajar membuat roti. Dari mulai menakar resep, mengolah, baking selanjutnya menata di display mereka juga diajarkan untuk berwirausaha. Roti-roti yang mereka buat akan mereka jual di kalangan rumah sakit juga. Saya sempat membeli dua buah roti isi coklat yang tersisa.




Untuk yang suka music, kebetulan saat kami mengunjungi ruang music mereka sedang berlatih menyanyikan lagu kicir-kicir diiringi piano. Nantinya, mereka akan unjuk kebolehan setiap ada acara-acara istimewa. Kami juga mengunjungi ruang gallery dimana aneka lukisan kerajinan tangan dipamerkan di ruang ini. Bagus-bagus deh.

Nah, setelah lolos di level ini selanjutnya rehabilitant bisa pindah ke

Level Mandiri. Di level ini rehabilitant mengikuti program kegiatan sebanyak 60 kali pertemuan. Jika lulus rehabilitant dinyatakan mampu berada di lingkungan keluarganya.



Meski baru terbatas, keinginan rehabilitant untuk mengembangkan kemampuan diri sesuai minatnya didukung penuh oleh Rumah sakit Dr. Soeharto Herdjan. Untuk itu peran serta keluarga untuk tidak mengabaikan pasien penderita gangguan jiwa amat diharapkan. Mereka juga ingin sembuh. Jadi jangan pernah mendiskriminasikan mereka.






Jumat, 25 November 2016

Memilih Jenis Sarapan Seimbang Sebagai Bagian Dari Gaya Hidup Sehat




source : pixabay

Sarapan apa hari ini ya? Satu demi satu gambaran makanan sarapan pagi di perumahan saya pun muncul. Dari bubur ayam, nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur, ketoprak hingga gudek nangka. Iya, gudek nangka dengan sayur santan krecek yang kental itu. Hiiyy, aneh ya? 

Sabtu, 10 September 2016

Persiapan Untuk Sambut Si Buah Hati Bersama MRCCC Siloam Hospital dan Blibli.com





Setelah menikah, apa sih rencana pasutri berikutnya? Sebagian besar pasti menjawab, “punya anak dooong”. Betul sekali, anak merupakan anugerah yang paling ditunggu-tunggu pasangan suami istri di seluruh jaga raya. Sejatinya kehadiran anak bisa membawa kehangatan dalam rumah tangga dengan gelak tawanya. Namun, sebagaimana kita tau, punya anak itu sama sekali ngga mudah. Selain harus mempersiapkan fisik dan emosi juga harus mempersiapkan dana, ya kan?


Beruntung sekali saya dan teman-teman Blogger berkesempatan hadir dalam Talkshow Kesehatan dan Parenting di Conference Room Siloam Hospital Jakarta, 8 September 2016 lalu. Bertajuk “Be a Healthy Mom to be (Breastfeeding and Baby Blues) Talkshow yang diadakan komunitas Blibli Friends Meet Up menyoroti persiapan diri menjadi ibu oleh dokter-dokter spesialis MRCCC Siloam Hospital Semanggi Jakarta.




Persalinan Normal Versus Sesar
Sebagai narasumber pertama, Dr. Batara Sirait SPOG (K) FER memaparkan topic seru mengenai pro kontra persalinan normal dan sesar. Menurutnya, dari jauh-jauh hari seorang ibu hamil sebaiknya sudah harus mempersiapkan kelahirannya. Bukan persiapan barang apa aja yang dibawa saat ke rumah sakit untuk persalinan namun persiapan diri sejak kehamilan dinyatakan positif. Persiapan diri sendiri contohnya adalah rajin control ke dokter sesuai jadwal dan makan makanan bergizi.


Dokter Batara Sirait SPOG (K) FER

Sejalan dengan membesarnya kandungan, kebanyakan pasien yang datang di meja prakteknya merencanakan proses persalinannya dengan cara Sesar. Dokter yang berfokus pada program bayi tabung ini tidak menyalahkan. Karena, menurutnya, ada etnis tertentu yang masih mempercayai ‘timing’ yang berhubungan dengan keberuntungan dan nasib baik sang anak kelak.

Namun, sejatinya melahirkan dengan cara normal adalah pilihan terbaik kecuali ada kasus-kasus tertentu yang mengharuskan persalinan harus dengan cara Sesar. Kasus-kasus yang banyak terjadi adalah terlilitnya tali pusar, letak bayi melintang (sungsang) dan plasenta praveia (letak ari-ari berpindah). Terkadang berat bayi di atas rata-rata, normalnya kurang lebih 3 kilogram, untuk menghindari robekan vagina atau jebolnya rahim terpaksa harus menjalani tindakan operasi Sesar.


proses persalinan normal

Kelebihan bersalin dengan cara normal dibanding Sesar adalah proses pemulihannya yang cepat. Sebenarnya, sehari setelah melahirkan pasien yang melahirkan dengan cara normal sudah diperbolehkan pulang. Berbeda dengan persalinan Sesar, biasanya sehari setelah operasi pasien masih harus latihan miring kiri kanan dulu di tempat tidur. Pasalnya, rasa nyeri akibat proses anestesi di tulang punggung dan irisan Sesar di perut bawah sebanyak 7 lapis untuk mengeluarkan bayi akan dirasakan pasien setelah Sesar.

Memang masing-masing proses persalinan ada plus minusnya. Selain kelebihannya tadi, kekurangan bersalin dengan cara normal dibanding Sesar adalah waktu. Dijelaskannya, setiap pasien pembukaan jalan lahirnya berbeda-beda. Umumnya, kata Dokter Batara adalah 14 jam. Berbeda dengan Sesar yang direncanakan mau tanggal berapa, hari apa, jam berapa, proses persalinannya singkat sekali, hanya memakan waktu 5 – 10 menit. Jadi pasien tidak perlu mengejan sampai kehabisan energy seperti pada persalinan normal.

Namun yang terpenting, tindakan untuk menyelamatkan ibu dan bayi saat persalinan adalah yang terutama. Untuk pertamanya pasien dicoba untuk bersalin dengan cara normal. Jika kepayahan saat mengejan ditambah kontraksi yang terlalu lama akan diambil tindakan lain misalnya dengan cara Forcep (disedot dengan alat sejenis vakum). Namun jika masih ada kendala juga keputusan terakhir adalah Sesar.

Yang penting Ibu dan bayinya selamat ~ Dokter Batara SPOG (K) FER

Serba Serbi ASI



Narasumber ke dua Dokter Paulus Linardi SpA memaparkan materi mengenai ASI. Dokter yang juga tergabung dalam IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) yang juga giat mengkampanyekan ASI ini menjelaskan, masih banyak sekali mitos yang beredar di tengah masyarakat mengenai ASI. Contohnya, Kolostrum atau yang lebih dikenal dengan ‘susu basi’ konon harus dibuang. Padahal, kolostrum justru mempunyai banyak manfaat yang dibutuhkan bayi.



Dijelaskannya, kolostrum adalah cairan kental berwarna kekuningan yang keluar setelah persalinan. Setelah 5 – 14 hari cairan ASI berubah menjadi agak encer dan warnanya berubah dari kuning agak menjadi putih. Fase ini namanya ASI peralihan. Setelah fase ini, ASI disebut ASI mature dengan warna yang putih dan kental. Jadi, meski berbeda-beda tingkat kekentalan dan warnanya, ibu dianjurkan untuk tetap memberi ASI khususnya ASI ekslusif sampai 6 bulan. Ekslusif di sini maksudnya, tidak memberi makanan lain selain cairan ASI.


Kenapa begitu? Pada bayi baru lahir, ASI merupakan makanan terbaik di awal kehidupannya. Karena, fungsi saluran cernanya belum sempurna untuk diberikan makanan lain selain ASI. Disamping itu kebutuhan nutrisi dan kalori yang dibutuhkan bayi baru lahir cukup berasal dari ASI sehingga tidak dibutuhkan makanan lainnya. Selain itu WHO juga merekomendasikan  untuk memberikan ASI Ekslusif hingga usia 6 bulan




Pertanyaannya, kenapa harus ASI bukan Susu Formula? Dokter Paulus memaparkan isi kandungan nutrisi dalam ASI dan membandingkannya dengan susu sapi atau susu formula. Dijelaskannya, dalam ASI terkandung asam lemak essential alias lemak tak jenuh yang mudah diserap tubuh. Sementara dalam susu formula tidak ada asam lemak essentialnya. Asam lemak essential ini memproduksi enzim lipase dimana tugas enzim ini membantu proses penyerapan makanan. Itulah sebabnya, bayi yang diberi ASI akan lebih cepat lapar karena proses penyerapan makanannya berlangsung cepat.

Zat besi yang terkandung dalam ASI juga mudah diserap dikarenakan dibantu dengan enzim pencernaan sementara dalam susu formula kandungannya tinggi. Padahal, menurutnya, zat besi yang tinggi dalam sufor tidak berpengaruh apa-apa karena tidak bisa diserap. Sejatinya, zat besi yang diserap bayi hanya 10 persen saja.

Selain bermanfaat bagi bayi, ASI pun bermanfaat untuk ibu. Dengan menyusui, hisapan bayi merangsang pelepasan oksitosin sehingga mempercepat proses pengerutan uterus kembali seperti semula. Disamping itu, dengan memberi ASI pada bayi, pendarahan pasca persalinan dapat dicegah dan mengurangi anemia.


Keuntungan memberi ASI pada bayi menurut Dokter Paulus adalah adanya ikatan bonding (kasih sayang) antara ibu dan bayi. Dari beberapa penelitan, anak yang diberi ASI memiliki tingkat IQ di atas rata-rata dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Selain itu ASI juga mudah diberikan, bandingkan dengan pemberian sufor yang riskan steril dan tidaknya sehingga bayi jadi mudah terkena infeksi. ASI pun menghemat biaya karena anak yang diberi ASI lebih jarang sakit.

Dalam beberapa kasus terkadang ada faktor-faktor yang menyulitkan Ibu memberi ASI pada bayinya. Dokter Paulus menyarankan untuk tetap memberi ASI dengan bantuan selang atau sendok untuk menyuapi ASI pada bayinya. Pemberian lewat botol dan dot sama sekali tidak dianjurkan. Jangan mudah menyerah, sarannya.

Paket Kesehatan Online Blibli.com



Selain agenda Talkshow, demo memandikan bayi sekaligus diluncurkannya ruangan maternity Mother and Child Ward  dan VIP Ward di lantai 32-33  merupakan bentuk kerja sama Blibli.com dan MRCCC Siloam Hospital. Blibli.dom sebagai mal online pertama dan terbesar di Indonesia  menyediakan paket-paket kesehatan online sekaligus menjadi penyedia produk di ruangan Mother and Child Ward rumah sakit ini dengan cara pembayaran yang sangat mudah. Bisa dengan kartu kredit yang bisa dicicil 6 kali, debet, e-banking dan lain sebagainya. Jadi, urusan persiapan dana persalinan bukan hal yang jadi beban deh ya.

Bapak Lay Ridwan Gautama
Sebelum diajak mengunjungi ruangan maternity di lantai 32, Bapak Lay Ridwan Gautama, Head of Trade Partnership Blibli.com menjelaskan dengan singkat, “Produk kesehatan yang dijual Blibli.com yaitu CocoonaBaby Ergonomic Nest, Duux Air Purifier, Duux Baby Protector dan Aqua Scale 3 in 1 Baby Bath Tub. Produk-produk tersebut pun tersedia di ruangan maternity Mother and Child Ward dan VIP Ward ini.”



Selain menawarkan produk kesehatan, Blibli.com juga menawarkan paket kesehatan di MRCCC Siloam Hospital. Paket-paket kesehatan tersebut mencakup paket medical check-up dengan harga mulai dari Rp 1,3 juta , deteksi jantung mulai dari harga Rp 675 ribu dan paket persalinan mulai dari Rp 38,5 juta. Untuk lebih detilnya silakan kunjungi http://www.blibli.com/search?s=siloam